Jenis-Jenis Jaringan Berdasarkan Metode Akses

source : http://yogapw.wordpress.com/2012/03/13/jenis-jenis-jaringan-berdasarkan-metode-akses/

1. Ethernet

Ethernet merupakan jenis skenario perkabelan dan pemrosesan sinyal untuk data jaringan komputer yang dikembangkan oleh Robert Metcalfe dan David Boggs di Xerox Palo Alto Research Center (PARC) pada tahun 1972.

Proses standardisasi teknologi Ethernet akhirnya disetujui pada tahun 1985 oleh Institute of Electrical and Electronics Engineers (IEEE), dengan sebuah standar yang dikenal dengan Project 802. Standar IEEE selanjutnya diadopsi oleh International Organization for Standardization (ISO), sehingga menjadikannya sebuah standar internasional dan mendunia yang ditujukan untuk membentuk jaringan komputer. Karena kesederhanaan dan keandalannya, Ethernet pun dapat bertahan hingga saat ini, dan bahkan menjadi arsitektur jaringan yang paling banyak digunakan.

Berikut ini adalah jenis-jenis Ethernet apabila dilihat berdasarkan kecepatannya:

Tabel 1

Jenis-jenis Ethernet Berdasarkan Kecepatannya

No

Kecepatan

Standar

Spesifikasi IEEE

Nama

1 10 Mbit/detik 10Base2, 10Base5, 10BaseF, 10BaseT IEEE 802.3 Ethernet
2 100 Mbit/detik 100BaseFX, 100BaseT, 100BaseT4, 100BaseTX IEEE 802.3u Fast Ethernet
3 1000 Mbit/detik atau 1 Gbit/detik 1000BaseCX, 1000BaseLX, 1000BaseSX, 1000BaseT IEEE 802.3z Gigabit Ethernet
4 10000 Mbit/detik atau 10 Gbit/detik 11mm/.ll Standar ini belum banyak diimplementasikan

(Sumber: Wikipedia)

Ethernet menggunakan metode kontrol akses media Carrier Sense Multiple Access with Collision Detection (CSMA/CD) untuk menentukan node mana yang dapat mentransmisikan data pada waktu tertentu melalui media yang digunakan. Dalam jaringan yang menggunakan teknologi Ethernet, setiap komputer akan “mendengar” terlebih dahulu sebelum “berbicara”, artinya mereka akan melihat kondisi jaringan apakah tidak ada komputer lain yang sedang mentransmisikan data. Jika tidak ada komputer yang sedang mentransmisikan data, maka setiap komputer yang mau mengirimkan data dapat mencoba untuk mengambil alih jaringan untuk mentransmisikan sinyal. Sehingga, dapat dikatakan bahwa jaringan yang menggunakan teknologi Ethernet adalah jaringan yang dibuat berdasarkan basis First-Come, First-Served (Memprioritaskan yang pertama), daripada melimpahkan kontrol sinyal kepada Master Station seperti dalam teknologi jaringan lainnya.

Jika dua node hendak mencoba untuk mentransmisikan data pada waktu yang sama, maka kemungkinan akan terjadi collision (kolisi/tabrakan), yang akan mengakibatkan dua node tersebut menghentikan transmisi data, sebelum akhirnya mencoba untuk mengirimkannya lagi pada interval waktu yang acak (yang diukur dengan satuan milidetik). Semakin banyak node dalam sebuah jaringan Ethernet, akan mengakibatkan jumlah kolisi yang semakin besar pula dan kinerja jaringan pun akan menjadi buruk. Kinerja Ethernet yang seharusnya 10 Mbit/detik, jika dalam jaringan terpasang 100 node, umumnya hanya menghasilkan kinerja yang berkisar antara 40% hingga 55% dari bandwidth yang diharapkan (10 Mbit/detik). Salah satu cara untuk menghadapi masalah ini adalah dengan menggunakan Switch Ethernet untuk melakukan segmentasi terhadap jaringan Ethernet ke dalam beberapa collision domain.

Perangkat Ethernet telah mengalami perkembangan atau varian yang dapat mendukung transfer data lebih tinggi. Masing-maing varian dari Ethernet telah diberi nama dengan nama kode tertentu seperti dalam tabel berikut ini:

Tabel 2

Keluarga DIX Etthernet dan IEEE 802.3

Standar Ethernet

Tahun/tanggal

Keterangan

Experimental Ethernet 1972 Protokol Ethernet yang pertama, yang mampu mentransmisikan data melalui kabel koaksial dan topologi bus dengan kecepatan 2,94 megabit per detik.
Ethernet II (DIX 2.0) 1982 Protokol Ethernet hasil pengembangan selanjutnya, yang mampu mentransmisikan data melalui kabel koaksial tipis (thinnet), dengan kecepatan 10 megabit per detik. Pada standar ini juga diperkenalkan field EtherType. Format frame ini juga yang digunakan oleh protokol-protokol di dalam protokol Internet (TCP/IP).
IEEE 802.3 1983 Protokol Ethernet standar 10BASE5 yang mampu mentransmisikan data dengan kecepatan 10 Megabit per detik melalui kabel koaksial tebal (thicknet). Protokol ini sama seperti halnya DIX, kecuali pada field EtherType diganti oleh Length, dan sebuah header IEEE 802.2 yang menyertai header IEEE 802.3. Lebih jelasnya lihat di bagian bawah.
IEEE 802.3a 1985 Protokol Ethernet standar 10BASE2 yang mampu mentransmisikan data dengan kecepatan 10 Megabit per detik melalui kabel koaksial tipis (thinnet).
IEEE 802.3b 1985 10Broad36
IEEE 802.3c 1985 Spesifikasi repeater jaringan dengan kecepatan 10 megabit per detik.
IEEE 802.3d 1987 Fiber-Optic Inter-Repeater Link (FOIRL)
IEEE 802.3e 1987 10Base5 atau StarLAN
IEEE 802.3i 1990 Standar Ethernet 10BaseT, yang mampu mentransmisikan data dengan kecepatan 10 megabit per detik melalui kabel tembaga yang dipilin (twisted pair).
IEEE 802.3j 1993 Standar Ethernet 10BaseF, yang mampu mentransmisikan data dengan kecepatan 10 megabit per detik melalui kabel serat optik (Fiber-optic).
IEEE 802.3u 1995 Standar Fast Ethernet 100BaseTX, 100BaseT4, 100BaseFX, yang mampu mentransmisikan data dengan kecepatan 100 megabit per detik melalui kabel tembaga yang dipilin (twisted pair) dan juga menawarkan fungsi autonegotiation.
IEEE 802.3x 1997 Full duplex dan flow control
IEEE 802.3y 1998 Standar Fast Ethernet 100BaseT2, yang mampu mentransmisikan data dengan kecepatan 100 megabit per detik melalui kabel tembaga yang dipilin (twisted pair) kualitas rendah.
IEEE 802.3z 1998 Standar Gigabit Ethernet 1000Base-X, yang mampu mentransmisikan data dengan kecepatan 1000 megabit per detik (1 gigabit per detik) melalui kabel serat optik (fiber-optic).
IEEE 802.3-1998 1998 Revisi standar dasar yang menggabungkan semua amandemen dan ralat di atas.
IEEE 802.3ab 1999 Standar Gigabit Ethernet 1000BaseT, yang mampu mentransmisikan data dengan kecepatan 1000 megabit per detik (1 gigabit) melalui kabel tembaga yang dipilin (twisted pair).
IEEE 802.3ac 1998 Ukuran frame maksimum diperluas hingga 1522 byte (untuk mengizinkan “Q-tag”). Q-tag mencakup informasi Virtual Local Area Network (VLAN) IEEE 802.1Q dan informasi prioritas IEEE 802.1p.
IEEE 802.3ad 2000 Link aggregation untuk saluran-saluran paralel.
IEEE 802.3-2002 2002 Sebuah revisi yang menggabungkan tiga amandemen terakhir dan ralat.
IEEE 802.3ae 2003 Standar 10 Gigabit Ethernet 10GBase-SR,10GBase-LR, 10GBase-ER, 10GBase-SW, 10GBase-LW, dan 10GBase-EW yang mampu mentransmisikan data dengan kecepatan 10000 megabit per detik (10 gigabit).
IEEE 802.3af 2003 Power over Ethernet (PoE)
802.3ah 2004 Ethernet in the First Mile
IEEE 802.3ak 2004 Standar 10 Gigabit Ethernet 10GBase-CX4, yang mampu mentransmisikan data dengan kecepatan 10000 megabit per detik (10 gigabit) melalui kabel twin-axial.
IEEE 802.3-2005 2005 Revisi standar dasar yang menggabungkan empat amandemen dan ralat di atas.

(sumber: Wikipedia)

Ethernet dapat menggunakan topologi jaringan fisik apa saja (bisa berupa topologi bus, topologi ring, topologi star atau topologi mesh) serta jenis kabel yang digunakan (bisa berupa kabel koaksial (bisa berupa Thicknet atau Thinnet), kabel tembaga (kabel UTP atau kabel STP), atau kabel serat optik). Meskipun demikian, topologi star lebih disukai. Secara logis, semua jaringan Ethernet menggunakan topologi bus, sehingga satu node akan menaruh sebuah sinyal di atas bus dan sinyal tersebut akan mengalir ke semua node lainnya yang terhubung ke bus.

2. Token Ring

Token Ring adalah sebuah protokol LAN hasil pengembangan IBM pada tahun 1980 yang saat ini didefinisikan dalam IEEE 802,5 dimana semua node terhubung dalam sebuah cincin dan setiap node langsung bisa mendengar transmisi hanya dari tetangga terdekatnya. Izin untuk mengirimkan diberikan dengan pesan (token) yang beredar di sekitar ring. Token ring telah diimplementasikan pada topologi ring.

Pada awalnya, IBM membuat Token Ring sebagai pengganti untuk teknologi Ethernet (IEEE 802.3) yang merupakan teknologi jaringan LAN paling populer. Meskipun Token Ring lebih superior dalam berbagai segi, Token Ring kurang begitu diminati mengingat biaya implementasinya lebih tinggi jika dibandingkan dengan Ethernet.

Sepintas, apabila dilihat sekilas maka Token Ring tampak seperti jaringan bertopologi star yang memiliki sentral berupa sebuah hub/switch, bedanya pada token ring, sentral itu disebut Multistation Access Unit (MAU). Elemen kunci dari desain Token Ring milik IBM ini adalah penggunaan penyambung buatan IBM sendiri (proprietary), dengan menggunakan kabel pasangan berpilin (twisted pair pada kabel UTP atau STP), dan memasang hub aktif yang berada di dalam sebuah jaringan komputer.

Dengan Token-Ring, peralatan network secara fisik terhubung dalam konfigurasi (topologi) ring di mana data dilewatkan dari node satu ke node yang lain secara berurutan. Sebuah paket kontrol yang dikenal sebagai token akan berputar-putar dalam jaringan ring ini, dan dapat dipakai untuk pengiriman data. Node yang ingin mentransmit data akan mengambil token, mengisinya dengan data yang akan dikirimkan dan kemudian token dikembalikan ke ring lagi. Node penerima/tujuan akan mengambil token tersebut, lalu mengosongkan isinya dan akhirnya mengembalikan token ke pengirim lagi. Protokol semacam ini dapat mencegah terjadinya collision/kolisi data (tumbukan antar pengiriman data) dan dapat menghasilkan performansi yang lebih baik, terutama pada penggunaan high-level bandwidth.

3. Fiber Distributed Data Interface (FDDI)

FDDI mirip dengan Token Ring namun menggunakan dual-ring, salah satu ring berfungsi sebagai backup ketika ring utama mengalami kegagalan. FDDI menggunakan serat optik untuk media transmisi data standarnya. Selain optical fiber, media yang digunakan dapat pula dengan media kawat tembaga, tetapi dalam hal ini digunakan teknologi yang hampir mirip dengan FDDI yakni Coper Distributed Data Interface (CDDI). FDDI menyediakan kecepatan hingga 100 Mbit/s dan mampu menjangkau jarak sampai dengan 200 km. LAN FDDI dapat mendukung ratusan pengguna.

4. Wireless LAN

 

Secara topologi teknologi WLAN menggunakan 2 macam kemungkinan sebagai berikut:

a. Infrastructure atau Managed : dalam topologi ini diperlukan setidaknya sebuah Acces Point sebagai pengatur traffic network. Topologi ini cocok digunakan untuk menjangkau WLAN yang sedang atau besar.

b. Ad-Hoc atau Unmanaged: pada topologi ini tidak diperlukan Acces Point, setiap komputer dapat terhubung secara peer-to-peer. Topologi ini cocok untuk menhubungkan beberapa buah komputer saja.

Perangkat yang dikembangkan untuk WLAN antara lain:

a. Wireless Fidelity (WiFi) adapter. Dapat dianalogikan Ethernet Card pada LAN.

b. Access Point (AP). Dapat dianalogikan dengan Hub/Switch pada LAN.

c. Printer WiFi, Camera WiFi, handphone WiFi, dan sebagainya.

Tabel 3

Keluarga IEEE 802.11

Rilis

Protokol

Freq.
(GHz)

Bandwidth
(MHz)

Data rate per stream
(Mbit/s)

Modulasi

Perkiraan Jangkauan indoor

Perkiraan Jangkauan outdoor

(m)

(m)

Jun 1997 IEEE 802.11 2.4 20 1, 2 DSSS, FHSS

20

100

Sep 1999 IEEE 802.11a 5 20 6, 9, 12, 18, 24, 36, 48, 54 OFDM

35

120

3.7

5,000

Sep 1999 IEEE 802.11b 2.4 20 5.5, 11 DSSS

35

140

Jun 2003 IEEE 802.11g 2.4 20 6, 9, 12, 18, 24, 36, 48, 54 OFDM, DSSS

38

140

Oct 2009 IEEE 802.11n 2.4/5 20 7.2, 14.4, 21.7, 28.9, 43.3, 57.8, 65, 72.2 OFDM

70

250

40 15, 30, 45, 60, 90, 120, 135, 150

70

250

Nov. 2011 IEEE 802.11ac (Draf) 5 80 433, 867  
160 867, 1.73 Gbit/s, 3.47 Gbit/s, 6.93 Gbit/s

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: